Dear... Si Senyum Manis
Gw memang tertarik dengannya
sejak dulu, siapa... laki-laki yang mampu untuk tidak tertarik dengan wanita
secantik ini ?. Gw teringat lagu
berjudul “Risiko Orang Cantik” di mana tipe wanita seperti ini disukai banyak
lelaki. Wanita tipe seperti ini bagaikan penyamun hati tiap laki-laki yang
memandangnya. Pertama gw melihat dirinya logika gw berbisik,
“Jangan sampai lu
jatuh hati bahkan jatuh cinta dengan cewek kayak gini, karena akan sangat
menyakitkan hati dan melelahkan pikiran”. (Logika gw ketika pertama kali melihat dirinya)
Logika gw berkata seperti itu
karena seperti hukum pasar bekerja, di mana wanita seperti ini sangat diminati
pasar laki-laki yang bertujuan mencari pasangan sehidup-semati atau sekedar
untuk “bersenang-senang”. Konsekuensinya tidak hanya besarnya risiko penolakan
dari wanita itu sendiri - karena lelaki
tersebut mungkin tidak cukup tampan dan mapan , tetapi juga kemungkinan terjadi
aksi saling sikut menyikut di antara para lelaki yang jelas menimbulkan aroma
rivalitas dan permusuhan. Tapi harus diingat cantik fisik hanya sampai umur 30
tahun, selebihnya seiring waktu kecantikan pun akan pudar. Namun gw sudah masuk
tahap ketiga ketertarikan di mana gw tertarik dengannya bukan hanya fisik tapi juga
secara emosional dan mental.
Akan tetapi seiring waktu
berjalan logika gw justru melemah, IQ gw turun beberapa poin karena pesonanya.
Itu terjadi karena sering secara kebetulan, situasi dan kondisi secara terus
menerus mendukung hal tersebut. Tidak pernah gw berencana satu kelompok
dengannya, bertemu dengannya beberapa kali di perpustakaan, berpapasan setiap
kesempatan. Mungkin dia tidak pernah tahu teori persahabatan antara laki-laki
dan perempuan, karena sesungguhnya tidak akan pernah ada sepasang laki-laki dan
perempuan saling berteman atau bersahabat tanpa ada minat ketertarikan dari
laki-laki bahkan teman sepermainan sekalipun. Kalau tidak percaya silahkan “googling” sendiri, seorang perempuan
dapat saja dengan nyaman berteman dengan laki-laki tanpa adanya unsur
ketertarikan. Perempuan bisa bersahabat hanya dengan mengandalkan emosi
pertemanannya walaupun tidak ada unsur ketertarikan dari wanita. Sedangkan seorang
laki-laki hanya mau “berteman atau bersahabat” dengan wanita - jika wanita itu
menarik hatinya terlebih menarik pada area visual matanya. Seorang laki-laki
yang terlihat mengobrol dengan seorang perempuan belum tentu saling berteman.
Yang disebut pertemanan di sini adalah ketika seorang laki-laki secara terus
menerus berusaha menjalin komunikasi, bercanda, ngobrol, makan bareng, hangout
bareng secara rutin, intens, atau sporadis dengan seorang perempuan. Laki-laki
sudah terlalu banyak memiliki teman (sesama laki-laki yang tidak menarik
hatinya) maka dari itu ketika laki-laki berteman dengan seorang perempuan
motifnya adalah pertemanan lewat hati. Itulah kenapa Islam melarang laki-laki
dan perempuan terlalu dekat atau intim, karena laki-laki memang memang sejak
zaman Nabi Adam selalu lemah terhadap perempuan. Perempuan adalah ujian terberat
bagi laki-laki, laki-laki bisa saja tahan godaan tidak makan, minum, marah, dan
lainnya tetapi tidak dengan perempuan. Semua orang tahu kalau anak Nabi Adam
membunuh saudara kandungnya sendiri karena berebut perempuan dan semua tahu
kalau manusia terusir dari surga karena Adam tergoda oleh rayuan Hawa untuk memakan
buah terlarang itu. Hanya laki-laki yang super imannya yang bisa menahan
pandangan matanya dari wanita, terlebih wanita cantik. Kalau perempuan punya teman laki-laki, dan
laki-laki itu tidak ada ciri melambai (laki-laki tulen) , tapi berteman dekat
dengan perempuan, dipastikan cepat atau lambat laki-laki itu pasti jatuh cinta
dengan sahabat perempuannya, walaupun perempuan lebih kebal terhadap hal itu.
Laki-laki adalah makhluk sosial
dengan emosi dan perasaan yang sangat dangkal, mereka dominan dikendalikan
pikiran dan logika mereka. Maka dari itu laki-laki sangat sensitif terhadap
wanita, apalagi wanita cantik. Laki-laki adalah laki-laki, mereka diciptakan
(dalam bahasa ilmiah “berevolusi”) untuk berburu dalam hal apapun. Setiap
kesempatan yang datang tak akan disiakan olehnya. Dan gw adalah laki-laki biasa
sama seperti yang lain yang dengan mudah menjadi sensitif dengan wanita cantik.
Akan tetapi laki-laki ditamengi oleh logika dan objektifitas yang lebih terasah
dibandingkan perempuan. Gw mampu untuk menahan perasaan supaya tidak jatuh
cinta dengannya selama dua tahun sejak pertemuan pertama, itu karena bantuan
logika di dalam kepala gw. Akan tetapi takdir memang sengaja membuat gw jatuh
cinta sama dia, sekelompok yang tadinya tiga orang, temannya justru memilih
mengganti tema pembahasan, yang justru membuat gw hanya berdua dengannya. Kecuekan,
Keapatisan, pendirian teguh, dan akal sehat gw pun luntur karena kecantikannya
didukung kepribadiannya yang humble,
senyumnya yang manis dan wajahnya yang lucu. Logika (akal pemberian Tuhan) gw
mengatakan:
“untuk mendapatkan wanita cantik seperti dirinya, kau
harus menjadi seorang laki-laki dewasa, tampan, dan mapan...sedangkan dirimu
belum sampai pada hal itu. Kau harus meraih penghasilan yang mapan terlebih
dahulu, sehingga kedewasaan mu meningkat, ketika kedewasaanmu meningkat maka kemaskulinanmu
meningkat...karena kau telah mampu untuk mandiri. Ketika kau telah mampu untuk
mandiri maka sudah layak bagimu untuk berusaha mendapatkan cintanya.
Kemandirian menciptakan kepercayaan diri tiada tara, setelahnya ketampanan pun
akan datang dengan sendirinya, baru kemudian mungkin kau layak untuknya”. (Logika gw sebelum jatuh cinta dengannya,
Maret, 2016)
Itulah logika dan pikiran gw ketika
IQ gw masih belum turun karena jatuh cinta, akan tetapi gw terperdaya hormon
testosteron. Unsur penyusun biologi dan reaksi kimia dalam otak gw tak kuasa
membendung perasaan jatuh cinta olehnya. Hari demi hari gw selalu
memikirkannya, bahkan setiap tidur selalu dia yang menjadi pemeran utama dalam
mimpi gw. Pernah dalam satu hari gw tidur tiga kali karena kelelahan, malam,
siang, dan sore. Semuanya mimpi tentang dia, kadang ceritanya menyenangkan
namun kadang juga menyedihkan. Otak gw benar-benar habis...habis tak tersisa
lagi oleh bayangan wajah dan nada suaranya yang khas dan lucu. Gw sudah seperti
orang kena kecanduan narkoba mungkin, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap
detik selalu namanya, wajahnya, suaranya, cara dia menatap, perilakunya,
terutama senyumannya, bahkan wajah juteknya selalu terniang-niang di kepala. IQ
gw turun perlahan demi perlahan...gw pun pasrah dengan keadaan ini, sembari
berdoa agar semua ini bisa hilang dari otak gw.
Gw menggadaikan harga diri
hanya demi mendapatkan perhatiannya. Perhatian dan berkomunikasi dengannya
adalah cambuk yang melecuti jiwa gw, gw termotivasi, gw langsung berhasrat
untuk segera membuktikan gw layak untuknya. Tetapi semangat yang didasari oleh
perasaan adalah tipu daya, karena perasaan cinta tidak datang dari pertimbangan
rasional yang realistis. Gw terus saja menghancurkan harga diri, harkat
martabat di depannya, padahal sejatinya gw adalah pribadi yang cuek dan tak
peduli dengan hal apapun di luar dari dalam diri sendiri. Tetapi dia telah
membelokkan arah dari dunia yang hendak ingin gw raih atau justru malah jadi
pelecut...tapi lecutannya terlalu keras. Gw menjadi tidak konsentrasi dengan
semua hal yang ada dalam dunia gw, semua berorientasi hanya untuk dia. IP gw
yang terus menanjak dari semester 1 hingga semester 3 seketika turun di
semester 4 karena mulai jatuh hati dan selalu memikirkan dia. Dulu tujuan dan
fokus ambisi gw adalah cumlaude
dengan IP yang terus menanjak dan lulus tepat waktu, gw belajar dengan keras
untuk hal itu. Semester 1 IP gw 3,68 lalu semester berikutnya menjadi 3,71 lalu
naik kembali semester berikutnya menjadi 3,75, semester 4 gw target 3,8 –
tetapi jatuh cinta dengan dia menguras 40% energi konsentrasi, IP gw turun
menjadi 3,68 kembali. Masih saja cinta yang menyakitkan ini menghancurkan diri
gw....hingga pada akhirnya gw sampai pada titik terendah dalam hidup. Putaran
roda yang tadinya di atas seketika menukik berputar ke bawah. Gw gagal
menyelesaikan skripsi, gw tidak fokus, mungkin semua bersumber dari cinta pada
nya yang membuat gw tak fokus, banyak sekali ujian yang datang ketika gw
mencintai dia. Meskipun sebab akibat ini tidak berhubungan secara langsung, tetapi
ini berhubungan secara tidak langsung antara variabel dependen dan independen. Ilustrasinya
seperti ini:
·
Jatuh
cinta dengan dia à laptop hilang à skripsi tak selesai
·
Jatuh
cinta dengan dia à galau à laptop hilang à skripsi tak selesai
·
Jatuh
cinta dengan dia à galau à hilang fokus à laptop hilang à skripsi tak selesai
·
Jatuh
cinta dengan dia à galau à hilang fokus à pelupa à laptop hilang à konsentrasi buyar à skripsi tak selesai
·
Jatuh
cinta dengan dia à galau à hilang fokus à pelupa à kurang hati-hati à laptop hilang à konsentrasi buyar à skripsi tak selesai
Jadi
kesimpulannya adalah:
A. Gw jatuh cinta dengan dia
B. Jatuh cinta membuat skripsi tak selesai
Jadi jatuh cinta dengan dia membuat skripsi
gw tidak selesai (hahaha..)
Tidak hanya laptop banyak hal
lainnya yang berawal dari perasaan jatuh cinta tersebut. Apalagi gw melihat
kenyataan bahwa cinta gw ini sepertinya tak berguna buat dirinya alias bertepuk
sebelah tangan dengan melihat banyak tanda.
Ini memang bukan salahnya, ini
murni kesalahan gw sendiri yang mengabaikan nasehat logika atau akal sehat.
Dari semua tulisan ini, berharap dia tahu...ada orang di dunia ini yang selalu
mikirin dia tiap saat. Tapi ternyata ini semua sepertinya omong kosong belaka,
skripsi tak selesai, cinta pun tak terbalas. Gw belajar dari kegagalan ini,
idealisme dan realisme adalah dua hal yang tak mungkin disatukan. Utopia dan
realitas, sekarang mulai lah mendengarkan akal sehat walaupun perasaan mendesak.
Hargai realitas dan belajar lebih bijaksana. Semoga gw bisa menemukan wanita
seperti lu lagi
......25/12/16
Tidak ada komentar:
Posting Komentar