Rabu, 08 Februari 2017

Isi Kepala - Dear... Si Senyum Manis

Dear... Si Senyum Manis
Gw memang tertarik dengannya sejak dulu, siapa... laki-laki yang mampu untuk tidak tertarik dengan wanita secantik ini ?.  Gw teringat lagu berjudul “Risiko Orang Cantik” di mana tipe wanita seperti ini disukai banyak lelaki. Wanita tipe seperti ini bagaikan penyamun hati tiap laki-laki yang memandangnya. Pertama gw melihat dirinya logika gw berbisik,
 “Jangan sampai lu jatuh hati bahkan jatuh cinta dengan cewek kayak gini, karena akan sangat menyakitkan hati dan melelahkan pikiran”. (Logika gw ketika pertama kali melihat dirinya)
Logika gw berkata seperti itu karena seperti hukum pasar bekerja, di mana wanita seperti ini sangat diminati pasar laki-laki yang bertujuan mencari pasangan sehidup-semati atau sekedar untuk “bersenang-senang”. Konsekuensinya tidak hanya besarnya risiko penolakan dari wanita itu sendiri -  karena lelaki tersebut mungkin tidak cukup tampan dan mapan , tetapi juga kemungkinan terjadi aksi saling sikut menyikut di antara para lelaki yang jelas menimbulkan aroma rivalitas dan permusuhan. Tapi harus diingat cantik fisik hanya sampai umur 30 tahun, selebihnya seiring waktu kecantikan pun akan pudar. Namun gw sudah masuk tahap ketiga ketertarikan di mana gw tertarik dengannya bukan hanya fisik tapi juga secara emosional dan mental.
Akan tetapi seiring waktu berjalan logika gw justru melemah, IQ gw turun beberapa poin karena pesonanya. Itu terjadi karena sering secara kebetulan, situasi dan kondisi secara terus menerus mendukung hal tersebut. Tidak pernah gw berencana satu kelompok dengannya, bertemu dengannya beberapa kali di perpustakaan, berpapasan setiap kesempatan. Mungkin dia tidak pernah tahu teori persahabatan antara laki-laki dan perempuan, karena sesungguhnya tidak akan pernah ada sepasang laki-laki dan perempuan saling berteman atau bersahabat tanpa ada minat ketertarikan dari laki-laki bahkan teman sepermainan sekalipun. Kalau tidak percaya silahkan “googling” sendiri, seorang perempuan dapat saja dengan nyaman berteman dengan laki-laki tanpa adanya unsur ketertarikan. Perempuan bisa bersahabat hanya dengan mengandalkan emosi pertemanannya walaupun tidak ada unsur ketertarikan dari wanita. Sedangkan seorang laki-laki hanya mau “berteman atau bersahabat” dengan wanita - jika wanita itu menarik hatinya terlebih menarik pada area visual matanya. Seorang laki-laki yang terlihat mengobrol dengan seorang perempuan belum tentu saling berteman. Yang disebut pertemanan di sini adalah ketika seorang laki-laki secara terus menerus berusaha menjalin komunikasi, bercanda, ngobrol, makan bareng, hangout bareng secara rutin, intens, atau sporadis dengan seorang perempuan. Laki-laki sudah terlalu banyak memiliki teman (sesama laki-laki yang tidak menarik hatinya) maka dari itu ketika laki-laki berteman dengan seorang perempuan motifnya adalah pertemanan lewat hati. Itulah kenapa Islam melarang laki-laki dan perempuan terlalu dekat atau intim, karena laki-laki memang memang sejak zaman Nabi Adam selalu lemah terhadap perempuan. Perempuan adalah ujian terberat bagi laki-laki, laki-laki bisa saja tahan godaan tidak makan, minum, marah, dan lainnya tetapi tidak dengan perempuan. Semua orang tahu kalau anak Nabi Adam membunuh saudara kandungnya sendiri karena berebut perempuan dan semua tahu kalau manusia terusir dari surga karena Adam tergoda oleh rayuan Hawa untuk memakan buah terlarang itu. Hanya laki-laki yang super imannya yang bisa menahan pandangan matanya dari wanita, terlebih wanita cantik.  Kalau perempuan punya teman laki-laki, dan laki-laki itu tidak ada ciri melambai (laki-laki tulen) , tapi berteman dekat dengan perempuan, dipastikan cepat atau lambat laki-laki itu pasti jatuh cinta dengan sahabat perempuannya, walaupun perempuan lebih kebal terhadap hal itu.
Laki-laki adalah makhluk sosial dengan emosi dan perasaan yang sangat dangkal, mereka dominan dikendalikan pikiran dan logika mereka. Maka dari itu laki-laki sangat sensitif terhadap wanita, apalagi wanita cantik. Laki-laki adalah laki-laki, mereka diciptakan (dalam bahasa ilmiah “berevolusi”) untuk berburu dalam hal apapun. Setiap kesempatan yang datang tak akan disiakan olehnya. Dan gw adalah laki-laki biasa sama seperti yang lain yang dengan mudah menjadi sensitif dengan wanita cantik. Akan tetapi laki-laki ditamengi oleh logika dan objektifitas yang lebih terasah dibandingkan perempuan. Gw mampu untuk menahan perasaan supaya tidak jatuh cinta dengannya selama dua tahun sejak pertemuan pertama, itu karena bantuan logika di dalam kepala gw. Akan tetapi takdir memang sengaja membuat gw jatuh cinta sama dia, sekelompok yang tadinya tiga orang, temannya justru memilih mengganti tema pembahasan, yang justru membuat gw hanya berdua dengannya. Kecuekan, Keapatisan, pendirian teguh, dan akal sehat gw pun luntur karena kecantikannya didukung kepribadiannya yang humble, senyumnya yang manis dan wajahnya yang lucu. Logika (akal pemberian Tuhan) gw mengatakan:
“untuk mendapatkan wanita cantik seperti dirinya, kau harus menjadi seorang laki-laki dewasa, tampan, dan mapan...sedangkan dirimu belum sampai pada hal itu. Kau harus meraih penghasilan yang mapan terlebih dahulu, sehingga kedewasaan mu meningkat, ketika kedewasaanmu meningkat maka kemaskulinanmu meningkat...karena kau telah mampu untuk mandiri. Ketika kau telah mampu untuk mandiri maka sudah layak bagimu untuk berusaha mendapatkan cintanya. Kemandirian menciptakan kepercayaan diri tiada tara, setelahnya ketampanan pun akan datang dengan sendirinya, baru kemudian mungkin kau layak untuknya”. (Logika gw sebelum jatuh cinta dengannya, Maret, 2016)
Itulah logika dan pikiran gw ketika IQ gw masih belum turun karena jatuh cinta, akan tetapi gw terperdaya hormon testosteron. Unsur penyusun biologi dan reaksi kimia dalam otak gw tak kuasa membendung perasaan jatuh cinta olehnya. Hari demi hari gw selalu memikirkannya, bahkan setiap tidur selalu dia yang menjadi pemeran utama dalam mimpi gw. Pernah dalam satu hari gw tidur tiga kali karena kelelahan, malam, siang, dan sore. Semuanya mimpi tentang dia, kadang ceritanya menyenangkan namun kadang juga menyedihkan. Otak gw benar-benar habis...habis tak tersisa lagi oleh bayangan wajah dan nada suaranya yang khas dan lucu. Gw sudah seperti orang kena kecanduan narkoba mungkin, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik selalu namanya, wajahnya, suaranya, cara dia menatap, perilakunya, terutama senyumannya, bahkan wajah juteknya selalu terniang-niang di kepala. IQ gw turun perlahan demi perlahan...gw pun pasrah dengan keadaan ini, sembari berdoa agar semua ini bisa hilang dari otak gw.
Gw menggadaikan harga diri hanya demi mendapatkan perhatiannya. Perhatian dan berkomunikasi dengannya adalah cambuk yang melecuti jiwa gw, gw termotivasi, gw langsung berhasrat untuk segera membuktikan gw layak untuknya. Tetapi semangat yang didasari oleh perasaan adalah tipu daya, karena perasaan cinta tidak datang dari pertimbangan rasional yang realistis. Gw terus saja menghancurkan harga diri, harkat martabat di depannya, padahal sejatinya gw adalah pribadi yang cuek dan tak peduli dengan hal apapun di luar dari dalam diri sendiri. Tetapi dia telah membelokkan arah dari dunia yang hendak ingin gw raih atau justru malah jadi pelecut...tapi lecutannya terlalu keras. Gw menjadi tidak konsentrasi dengan semua hal yang ada dalam dunia gw, semua berorientasi hanya untuk dia. IP gw yang terus menanjak dari semester 1 hingga semester 3 seketika turun di semester 4 karena mulai jatuh hati dan selalu memikirkan dia. Dulu tujuan dan fokus ambisi gw adalah cumlaude dengan IP yang terus menanjak dan lulus tepat waktu, gw belajar dengan keras untuk hal itu. Semester 1 IP gw 3,68 lalu semester berikutnya menjadi 3,71 lalu naik kembali semester berikutnya menjadi 3,75, semester 4 gw target 3,8 – tetapi jatuh cinta dengan dia menguras 40% energi konsentrasi, IP gw turun menjadi 3,68 kembali. Masih saja cinta yang menyakitkan ini menghancurkan diri gw....hingga pada akhirnya gw sampai pada titik terendah dalam hidup. Putaran roda yang tadinya di atas seketika menukik berputar ke bawah. Gw gagal menyelesaikan skripsi, gw tidak fokus, mungkin semua bersumber dari cinta pada nya yang membuat gw tak fokus, banyak sekali ujian yang datang ketika gw mencintai dia. Meskipun sebab akibat ini tidak berhubungan secara langsung, tetapi ini berhubungan secara tidak langsung antara variabel dependen dan independen. Ilustrasinya seperti ini:
·         Jatuh cinta dengan dia  à laptop hilang à skripsi tak selesai
·         Jatuh cinta dengan dia  à galau à laptop hilang à skripsi tak selesai
·         Jatuh cinta dengan dia à galau à hilang fokus à laptop hilang à skripsi tak selesai
·         Jatuh cinta dengan dia à galau à hilang fokus à pelupa à laptop hilang à konsentrasi buyar à skripsi tak selesai
·         Jatuh cinta dengan dia à galau à hilang fokus à pelupa à kurang hati-hati à laptop hilang à konsentrasi buyar à skripsi tak selesai
 Jadi kesimpulannya adalah:
A.    Gw jatuh cinta dengan dia
B.    Jatuh cinta membuat skripsi tak selesai
Jadi jatuh cinta dengan dia membuat skripsi gw tidak selesai (hahaha..)
Tidak hanya laptop banyak hal lainnya yang berawal dari perasaan jatuh cinta tersebut. Apalagi gw melihat kenyataan bahwa cinta gw ini sepertinya tak berguna buat dirinya alias bertepuk sebelah tangan dengan melihat banyak tanda.
Ini memang bukan salahnya, ini murni kesalahan gw sendiri yang mengabaikan nasehat logika atau akal sehat. Dari semua tulisan ini, berharap dia tahu...ada orang di dunia ini yang selalu mikirin dia tiap saat. Tapi ternyata ini semua sepertinya omong kosong belaka, skripsi tak selesai, cinta pun tak terbalas. Gw belajar dari kegagalan ini, idealisme dan realisme adalah dua hal yang tak mungkin disatukan. Utopia dan realitas, sekarang mulai lah mendengarkan akal sehat walaupun perasaan mendesak. Hargai realitas dan belajar lebih bijaksana. Semoga gw bisa menemukan wanita seperti lu lagi 

......25/12/16


Tidak ada komentar:

Posting Komentar