Sering sekali dalam hidup, kita menemukan sesuatu yang kita
anggap jalan keluar, terang, yang dipenuhi banyak cahaya. Setelah kita memasuki
jalan tersebut, ternyata setelah semakin dalam dimasuki dan dilewati setapak
demi setapak, cahaya itu ternyata hanya ada di bagian pintu masuk. Kita pun
tersadar, jalan yang kita lewati masih belum dapat mengantarkan kita ke tempat
yang kita tuju. Terang berubah menjadi gelap, sama seperti jalan yang kita
lewati sebelumnya.
Menemukan wanita yang tadinya kita anggap berbeda dengan
wanita yang lain, ternyata sama dengan wanita yang lain. Di awal terlihat
begitu terang dan memberikan harapan besar untuk menemani kita untuk sampai di
tujuan. Terlihat berkilau dengan daya rayunya, daya senyumannya, daya lembut
nada suaranya, daya candanya, daya tingkah polahnya yang lucu, daya
perhatiannya, dan daya-daya lain yang membuat kita semakin yakin untuk
menjadikan dia sebagai wanita terakhir yang mampu menghentikan petualangan dan
sensasi mencari tiada akhir. Satu bulan pertama, getaran hati membuat pikiran
seperti melayang. Bulan kedua pikiran melayang membuat sensasi sakau,
ketagihan, stress, depresi, rindu yang amat sangat hingga sampai bulan ke
sepuluh. Bulan ketiga mulai berani bertaruh mencoba peruntungan, ternyata hasil
masih belum sesuai harapan. Bulan kelima keberuntungan seperti menghampiri,
tapi ternyata kemudian sehari setelahnya keberuntungan itu dicampakkan dengan
pengabaian yang menyayat hati. Bulan keenam ekskalasi keberuntungan meningkat,
tapi ternyata ketika dieksekusi kembali menemui kegagalan. Harapan menurun,
kegelisahan meningkat, keyakinan goyah antara berharap dan putus asa. Bulan
kesembilan sampai kesepuluh adalah fase penurunan, stress sudah teramat berat.
Pikiran mulai tidak terkendali, berbagai blunder dan kesalahan strategi
komunikasi terjadi. Bayang-bayang kegagalan menghampiri, hubungan semakin tidak
jelas arahnya – semakin negatif, keberuntungan pun
berhenti. Sepertinya Tuhan sudah tidak memberikan lagi sebuah skenario lain
yang membuatku intens berkomunikasi dengannya.
Bulan baru tahun baru, hubungan seperti semakin kandas – harapan memupus, cahaya seperti menghilang dan kembali
gelap. Ternyata semua masih belum berubah, pola ini terus terjadi namun dengan
pembelajaran yang baru dan amat berharga. Sepertinya dia bukan wanita penuntun
cahaya yang dapat menghentikan sensasi pencarian untuk sampai di tujuan. Semoga
ini yang terakhir, aku bersumpah ini harus yang terakhir. Esok aku harus
menemukan cahaya sepanjang jalan hingga ujung ku tapaki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar