Rabu, 08 Februari 2017

Dilema Hidup - Paradoks Cahaya Rasa Ketertarikan

Sering sekali dalam hidup, kita menemukan sesuatu yang kita anggap jalan keluar, terang, yang dipenuhi banyak cahaya. Setelah kita memasuki jalan tersebut, ternyata setelah semakin dalam dimasuki dan dilewati setapak demi setapak, cahaya itu ternyata hanya ada di bagian pintu masuk. Kita pun tersadar, jalan yang kita lewati masih belum dapat mengantarkan kita ke tempat yang kita tuju. Terang berubah menjadi gelap, sama seperti jalan yang kita lewati sebelumnya.
Menemukan wanita yang tadinya kita anggap berbeda dengan wanita yang lain, ternyata sama dengan wanita yang lain. Di awal terlihat begitu terang dan memberikan harapan besar untuk menemani kita untuk sampai di tujuan. Terlihat berkilau dengan daya rayunya, daya senyumannya, daya lembut nada suaranya, daya candanya, daya tingkah polahnya yang lucu, daya perhatiannya, dan daya-daya lain yang membuat kita semakin yakin untuk menjadikan dia sebagai wanita terakhir yang mampu menghentikan petualangan dan sensasi mencari tiada akhir. Satu bulan pertama, getaran hati membuat pikiran seperti melayang. Bulan kedua pikiran melayang membuat sensasi sakau, ketagihan, stress, depresi, rindu yang amat sangat hingga sampai bulan ke sepuluh. Bulan ketiga mulai berani bertaruh mencoba peruntungan, ternyata hasil masih belum sesuai harapan. Bulan kelima keberuntungan seperti menghampiri, tapi ternyata kemudian sehari setelahnya keberuntungan itu dicampakkan dengan pengabaian yang menyayat hati. Bulan keenam ekskalasi keberuntungan meningkat, tapi ternyata ketika dieksekusi kembali menemui kegagalan. Harapan menurun, kegelisahan meningkat, keyakinan goyah antara berharap dan putus asa. Bulan kesembilan sampai kesepuluh adalah fase penurunan, stress sudah teramat berat. Pikiran mulai tidak terkendali, berbagai blunder dan kesalahan strategi komunikasi terjadi. Bayang-bayang kegagalan menghampiri, hubungan semakin tidak jelas arahnya semakin negatif, keberuntungan pun berhenti. Sepertinya Tuhan sudah tidak memberikan lagi sebuah skenario lain yang membuatku intens berkomunikasi dengannya.

Bulan baru tahun baru, hubungan seperti semakin kandas harapan memupus, cahaya seperti menghilang dan kembali gelap. Ternyata semua masih belum berubah, pola ini terus terjadi namun dengan pembelajaran yang baru dan amat berharga. Sepertinya dia bukan wanita penuntun cahaya yang dapat menghentikan sensasi pencarian untuk sampai di tujuan. Semoga ini yang terakhir, aku bersumpah ini harus yang terakhir. Esok aku harus menemukan cahaya sepanjang jalan hingga ujung ku tapaki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar